Berita Nasional

Tanaman Penghasil Emas, Banyak Di Indonesia, Buruan Tanam !

Jakarta Indonesia, negara kaya sumber daya alam, memiliki flora luar biasa. Prof. Hamim, Pakar Biologi Tumbuhan IPB, membuka rahasia tanaman Indonesia yang dapat menghasilkan emas. Pada Orasi Ilmiah IPB, Prof. Hamim menyebut logam berat, termasuk emas, dapat diekstraksi dari tanaman penyerap logam.

Tanaman “hiperakumulator,” mampu menyerap logam berat dalam jumlah besar, berperan dalam fitoremediasi dan “phytomining.” Prof. Hamim menyoroti potensi besar di Indonesia, terutama di wilayah ultrabasa. Eksplorasi di sekitar tailing dam tambang emas PT Antam UBPE Pongkor menunjukkan hampir semua jenis tumbuhan dapat mengakumulasi emas, kendati dalam kadar rendah.

 Apa yang di maksud dengan Tanaman hiperakumulator?

Tanaman hiperakumulator adalah jenis tanaman yang memiliki kemampuan khusus untuk menyerap dan mengakumulasi logam berat atau zat-zat beracun dalam jumlah yang tinggi dari tanah tempat mereka tumbuh. Kemampuan ini membuat tanaman hiperakumulator sering digunakan dalam proses fitoremediasi, yaitu metode pembersihan lingkungan yang menggunakan tanaman untuk menyerap, mengakumulasi, dan mereduksi kontaminan di tanah, air, atau udara.

Beberapa contoh tanaman hiperakumulator :

  1. Rorippa islandica (Wasabi Jepang): Merupakan salah satu tanaman hiperakumulator untuk logam berat seperti kadmium.
  2. Arabidopsis halleri (Berlina Tengkorak): Dikenal memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat seperti seng dan kadmium.
  3. Thlaspi caerulescens (Pacar Air Raya): Merupakan tanaman hiperakumulator untuk logam berat seperti seng, kadmium, dan nikel.
  4. Alyssum murale (Kuping Gajah): Hiperakumulator untuk logam berat seperti nikel.
  5. Brassica juncea (Kubis India): Dikenal sebagai hiperakumulator untuk logam berat seperti seng, kadmium, dan tembaga.

Potensi Tanaman “Hiperakumulator” Indonesia: Pembersih Lingkungan dan Penghasil Emas

Tanaman hiperakumulator dapat membantu fitoremediasi dengan bantuan dark septate endofit dan jamur mikoriza. Prof. Hamim menekankan perlunya perhatian untuk mengoptimalkan potensi ini.

Penggunaan amonium tiosianat sebagai pelarut emas dapat meningkatkan serapan emas oleh tanaman dan biomassa tanaman, mendukung program phytomining di tailing tambang emas.

Melalui pemahaman dan pemanfaatan potensi ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi pemimpin dalam penerapan konsep keberlanjutan dengan menggabungkan kekayaan alamnya dengan teknologi inovatif.

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button